Gamelan yang Kian Redup

Posted on June 17, 2011. Filed under: Hiburan |

Memasuki Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, aura semangat kerja penduduk sangat terasa. Begitu masuk jalan desa, di sisi kana-kiri jalan banyak dijumpai perajin genteng dan batu bata tengah menjemur produksi yang masih basah. Sedikit ke tengah, beberapa warga membuka usaha kerajinan mebel yang memproduksi meja, kursi dan lemari. Masuk lebih ke dalam lagi, terdengar suara berdentang tanda di dekatsana terdapat perajin gamelan.

Ya. Di Desa Wirun inilah sentra pembuatan gamelan. Desa ini terletak sekitar 10 kilometer arah timur tenggarakotaSolo, tepatnya di Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo. Meski agak jauh dari pusat keramaian Kota Solo, namun desa ini memiliki tingkat aksesibilitas yang mudah dijangkau dari berbagai arah maupun jenis kendaraan. Desa ini dikenal sebagai penghasil Kerajinan gamelan yang telah terkenal di dalam maupun luar negeri.

Gamelan sendiri merupakan alat musik khas Jawa yang mempunyai nilai seni adi luhung. Proses pembuatannya masih menggunakan cara-cara tradisional dan memerlukan ketrampilan khusus. Desa Wirun Kecamatan Mojolaban merupakan sentra industri gamelan di Kabupaten Sukoharjo, di mana terdapat sekitar 10 pengusaha dalam industri ini.

Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Mata saya tertuju pada sejumlah perangkat gamelan yang dipajang di teras rumah. Sedikit masuk ke belakang rumah, terdapat sekumpulan pekerja yang sedang membuat sebuah gong ukuran besar. Dua orang sedang membakar sebuah gong yang belum jadi dalam sebuah tungku berbahan bakar arang. Sebuah blower mengipasi tungku, sehingga arang kian membara, memercikkan bunga api. Gong yang terbuat dari tembaga bercampur timah pun menjadi memijar merah, tampak menyala karena ruangan yang digunakan cukup gelap.

Gong yang menyala diangkat dari perapian, diletakkan pada sebuah onggokan tanah liat. Empat pekerja bergegas mendekat dan menempa gong dengan sebuah palu besar yang terbuat dari kayu. Warga setempat menyebutnya dengan nama gandhen. Mereka menempa dengan teratur, sehingga menimbulkan suara berdentang yang berirama.Parapekerja yang bertelanjang dada kelihatan menghitam, karena tubuhnya dibaluri dengan keringat dan debu arang yang menempel rata. Walaupun sulit, paimin yang merupakan salah satu pekerja yang megabdi lebih dari 15 tahun ini mengaku hanya ini pekerjaan yang dapat menghidupi keluarganya. “Sebenernya ya susah ya mbak, tapi bisanya ya cuman ini. Jadi mau nggak mau inilah.”, ungkapnya.

Itulah yang terlihat di rumah Supoyo, salah satu perajin gamelan di desa wirun. Supoyo telah mengawali karirnya sejak tahun 1984. Perajin yang kini telah memiliki 32 pekerja ini sempat mengalami masa kejayaan sekitar tahun 2002 hingga tahun 2003 lalu. Masa itu, tak sedikit perajin yang mengekspor barang dagangannya dengan membukukan omzet miliaran rupiah. Sampai akhirnya pada tahun 2008 kemarin lelaki yang menggeluti dunia kerajinan gamelan sejak tahun 1962 ini mengalami masa sulit. Pasar lokal yang seharusnya sangat mendukung usahanya, akhirnya tergerus oleh budaya barat. Sebaliknya, negara adikuasa Amerika, malah sangat menghargai budaya gamelan kita. Katanya, “Memang kalau yang dari lokal agak menurun. Tapi pesenan dari Amerika malah banyak.”

Di masa seperti ini, biaya produksi makin membengkak. Namun tidak diikuti kenaikan harga jual yang signifikan. Harga jual gong ukuran 75 cm sekitar Rp5 juta. Padahal harga jual itu belum termasuk biaya listrik dan penyediaan tabung gas untuk pengelasan. Belum lagi upah pekerja yang mencapai 40 ribu rupiah per harinya.

Ironis rasanya, bila mendengar hal tersebut. Namun, lelaki yang mendapatkan bakat turun temurun dari keahlian ayahnya ini cukup beruntung. Pulau Bali yang masih sangat kental dengan tabuhan-tabuhan gamelan ternyata masih setia memesan perangkat gong berbagai ukuran darinya sekitar 20 hari sekali. “Ini saya baru pulang lho, dari Bali. Dari Bali pesennya 20 hari sekali, walaupun bukan seperangkat gamelan besar. Paling cuman perangkat gong kecil-kecil seperti itu.”, terang Supoyo.

Di sisi lain pemandangan, wisatawan lokal asal klaten, Aan Apriyana, terlihat sangat antusias mengamati gerak gerik para pekerja yang sedang asik memanggang dan menempa gong setengah jadi. Dia mengungkapkan, “Saya tertarik untuk kesini tuh karena saya penasaran gimana to, cara bikin salah satu budaya Indonesia ini.”

Klst D0207065

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: